Kamis, 22 November 2012

Dibalik Menurunnya Prestasi Sekolah Anak



Prestasi anak akhir-akhir ini menurun? Apa tindakan Anda? Apa sebabnya? Apakah anak tiba-tiba menjadi bodoh atau malas? Pada dasarnya penyebab prestasi anak menurun dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri anak itu sendiri dan faktor lingkungan berasal dari lingkungan. Namun, faktor internal biasanya selalu ada sangkut pautnya dengan faktor eksternal. Salah satu penyebabnya mungkin karena ada peran orangtua di dalamnya. seperti orangtua yang banyak memberikan kelonggaran bermain pada anak-anaknya.


Kalau Anda mendapati penyebabnya anak terlalu lama bermain, maka Anda juga harus mencari tahu kenapa anak lebih senang bermain. Karena bisa jadi kegemarannya bermain merupakan sebuah pelarian. Seperti ia lebih cenderung dan nyaman bersama temannya. Hal ini, mungkin juga dilakukannya karena ia ada masalah yang enggan diceritakan pada orangtua. Atau bisa jadi, anak sedang kecewa kepada guru atau temannya, sehingga ia sulit konsentrasi dan mengalihkan perhatiannya dengan bermain.

Pengaruh lain dari orang tua yang dapat menurunkan prestasi anak, yaitu adanya pemberian beban yang terlalu banyak kepada anak. Memang wajar, bila orangtua tidak hanya mendambakan anaknya berprestasi di sekolah, tapi juga di berbagai bidang. Oleh karena itu, anak pun dijejali berbagai les. Namun, ternyata hal tersebut justru menjadi faktor pemicu turunnya prestasi anak. Apalagi, bila anak tidak dapat membagi waktu.

Hal lainnya, yang mungkin dapat menjadi penyebab menurunnya prestasi anak antara lain, adanya keinginan yang tidak terpenuhi membuat anak merasa kecewa hingga mereka tidak lagi mampu konsentrasi di dalam menerima pelajaran di sekolah. Ditambah pula dengan adanya persaingan di sekolah yang semakin ketat dan membuat mereka lebih rentan untuk menurun prestasinya.

Biasanya prestasi anak menurun seiring meningkatknya jenjang pendidikan yang ia tempuh. Dalam kondisi prestasi anak yang menurun ini, orangtua sebaiknya tidak memojokkan anak. Jika hal ini dilakukan, anak bisa jadi tambah malas belajar. Bila tidak, anak dapat melakukan perbuatan tercela di sekolah demi mendapatkan prestasi baik dengan cara pintas, seperti menyontek. Bila menyontek telah menjadi kebiasaan anak, maka ia tidak akan memiliki kemandirian dan tidak lagi mampu untuk bersaing. Karena yang menentukan keberhasilan anak nantinya, 75 persen adalah kepribadian, yang meliputi minat, keuletan, dan kedisiplinan. Oleh karena itu, percuma saja bila anak cerdas tapi malas belajar, ia pun tidak akan bisa berhasil juga. Dan semua itu, amat memerlukan kerjasama yang baik antara orangtua dan anak. Bagilah waktu Anda dengannya, selama Anda masih mempunyai waktu, sedapat mungkin Andalah yang menemani anak belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar